Indonesia Inklusi The Series at UNPAD Jatinangor







‘GAWATRA BLOGSPOT UNIKOM - "Indonesia Inklusi The Series Seminar, Talkshow, Open Recruitment, On The Spot Interview for Future Career" yang bertempat di Gedung Bale Sawala Rektorat UNPAD Jatinangor. Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu, 4 Desember 2019 sejak pukul 08.40 dan selesai pada pukul 12.40.

Dibuka dengan sedikit peregangan yang diiringi oleh lagu Inklusi Nusantara, Pertunjukan dari Rangakaian Upacara Adat, Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hymne UNPAD, dan Pembacaan Doa oleh Agung Purwanto. Berikutnya ada laporan dari Ketua Pelaksana, Sambutan PKBI sekaligus Sambutan Pembukaan dari Rektor UNPAD dan Penyerahan Nota Kesepahaman PKBI dengan UNPAD.

Dalam acara ini pun turut menghadirkan beberapa tamu, yaitu ada Ibu Abdi Suryaningati selaku Team Leader Program Peduli The Asia Foundation, Pak Eko Maryadi selaku Ketua PKBI, Ibu Sri Yanti selaku Kepala LPKA Sukamiskin Bandung dan yang pasti dalam acara ini dihadirkan juga sang penulis utama dalam buku "Aku, Jeruji, dan Cita" yaitu Pak Maulana Irfan selaku Dosen Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran yang dalam pengerjaan pembuatan bukunya pun dibantu juga oleh Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran yaitu D. Anisa Sunija.


Pada Talkshow pertama Indonesia Inklusi ini, turut dihadirkan Ibu Abdi Suryaningati dan Pak Eko Maryadi. Ibu Abdi Suryaningati atau yang lebih akrab disapa dengan Ibu Yeni menjelaskan bahwa Inklusi sosial lahir dari respon terhadap realitas bahwa ditengah perkembangan dari program pengentasan  kemiskinan dan pembangunan di Indonesia itu ada kelompok-kelompok masyarakat yang tidak pernah tersentuh sama sekali dari berbagai aspek baik dari manfaat, ataupun mendengar saja sepertinya tidak pernah. Kelompok terpikirkan ini dapat dinilai dari orientasi seksual, posisi, umur, agama, situasi yang dihadapi, fisik dan lain sebagainya. Inklusi Sosial itu dipandang sebagai salah satu strategi yang mungkin akan bisa memasukkan kelompok-kelompok terpikirkan didalam proses-proses untuk menanggulangi kemiskinan dan pembangunan di Indonesia.

Inklusi sosial bisa menjadi sebuah pendekatan dikarenakan dalam pembangunan di Indonesia selain berbicara goverment juga berbicara sumber daya perbaikan relaksi atar komunitas dengan masyarakat. Berbicara Inklusi sosial adalah proses-proses untuk membangun hubungan sosial dan menghormati individu dan kelompok sehingga mereka yang merasa terpinggirkan dan mengalami prasangka-prasangka. Selanjutnya dapat mempunyai kehidupan dan berpartisipasi didalam seluruh aspek-aspek sosial budaya, ekonomi, dan politik serta memiliki akses dan kontrol atas sumber daya agar bisa hidup dengan layak sesuai dengan standar dari  masyarakat itu sendiri yang beraneka ragam.

Pak Eko sendiri juga menjelaskan bahwa PKBI adalah kantor yang bersifat inklusi, ketika PKBI diajak bekerjasama oleh Asia Foundatin dengan dukungan Departemen Australi dimana menggandeng kepala-kepala LP. PKBI memilih fokus terhadap kesehatan reproduksi dengan meberikan layanan-layanan yang ada di puskesmas, klinik, dan posyandu di berbagai daerah pada era tahun 70 – 80. Pada 5 terakhir tahun PKBI harus masuk kedalam isu-isu pada tingkat global dan regional dengan mengedepankan beberapa program yang secara umum membela atau melakukan kampanye terhadap minoritas seperti lesbian, transgender dan karena pekerjaan itu PKBI dianggap membela LGBT padahal maksudnya adalah PKBI hanya bekerja human right yang berlaku untuk semua orang.


Dilanjutkan dengan acara Talkshow kedua yang menghadirkan Ibu Sri Yanti, Pak Maulana Irfan, D. Anisa Sunija, dan juga tamu terpenting dalam acara Talkshow ini yaitu Dewa salah satu ABH (Anak yang Berhadapan dengan Hukum). Dalam talkshow ini menjelaskan mengenai bagaimana anak-anak tersebut dirawat dan diurus oleh LPKA Sukamiskin Bandung. Ibu Sri sendiri mengatakan bahwa beberapa orang tua dari ABH yang dibawa ke LPKA justru seperti merasa senang. Mengapa demikian? Karena ABH tersebut dirawat dan diurus oleh bagian LPKA sehingga orang tua nya justru kehilangan beban untuk mengurusi anak mereka. Hal ini perlu di waspadai karena anak-anak seperti mereka seharusnya diberikan pendidikan dan kasih sayang yang layak di usianya, bukan menjadi anak-anak yang memiliki status kriminalitas akibat tindakan-tindakan yang seharusnya tidak mereka lakukan. Keluarga, kesenjangan sosial, bahkan faktor pergaulan pun  bisa menjadi sebab dari timbulnya tindak kriminal tersebut.

Salah satu laporan yang sering masuk di PKBI adalah kasus kehamilan yang tidak diinginkan dikarenakan pendidikan seksualitas dianggap hal yang tabu yang akhirnya PKBI harus memiliki pemikiran yang terbuka dengan memberikan edukasi kepada sekolah-sekolah.

Demikian serangkaian acara dari “Indonesia Inklusi The Series sekaligus Seminar, Talkshow, Open Recruitment, On The Spot Interview for Future Career” yang bertempat di Gedung Bale Sawala Rektorat UNPAD Jatinangor yang bisa saya sampaikan. Semoga ke depannya semua LPKA yang ada di Indonesia bisa lebih baik lagi dari sekarang sehingga ABH sendiri bisa mulai bermimpi dan memiliki sebuah cita-cita untuk Indonesia ke depannya.

Scriptwritter : Tita & Siti Ajeng
Dokumentasi : Gebby & Tita
Editor : Asrul

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa bedanya Facebook sekarang dan dulu?